Oleh : Kartika Yurlisa
Tema : Air
“Banjir lagi, Banjir lagi” nyanyian merdu yang selalu terdengar dikala Indonesia mulai memasuki musim
penghujan. Dan uniknya, nyanyian itu selalu terulang tiap tahunnya. Bahkan sepertinya
kalau kita bertanya tentang bajir ke korban banjir tahunan. Mereka tentu akan
bilang “Sudah biasa”. Seakan hal tersebut sudah menjadi budaya masyarakat di
daerah yang sering ditimpa banjir.
Masalah klasik tersebut bukan hal mudah untuk diselesaikan dan menjadi
pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Jakarta dan Semarang dan
beberapa kota yang menjadi langganan banjir dari tahun ketahun. Kondisi jalanan atau area saat
ini menjadi sangat parah dan memprihatinkan ketika hujan turun. Jangankan hujan
lebat, hujan dengan intensitas sedang saja sudah berhasil menimbulkan genangan.
Belum lagi jika hujan turun dalam waktu yang lama, banjir dimana-mana.
Drainase yang buruk, menjadi salah satu
penyebab utama banjir. Drainase yang berupa gorong-gorong di bawah jalanan sangat
kecil dan tua. Gorong-gorong kelas mikro itu tidak mampu menampung beban curah hujan
yang banyak. Beberapa kota yang
memiliki ketinggian rendah harusnya memiliki sistem drainase terpadu lebih
baik.
Pengembangan kota-kota pantai di Indonesia seringkali lebih didasarkan kepada
kepentingan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pengembangan kawasan tersebut
menimbulkan masalah banjir tahunan yang tidak kunjung ditemukan solusi
masalahnya. Dari itulah perlu upaya peningkatan atau pengembangan aspek
teknologi dan manajemen untuk pengendalian banjir di kota-kota pantai di
Indonesia.
Sistem Drainase yang
baik? Nampaknya kita perlu belajar dari Belanda.Belanda merupakan Negara yang
memiliki sistem pengelolaan air terbaik di dunia. Belanda adalah negara yang gigih menghadapi
tantangan alam. Air merupakan masalah utama bagibangsa Belanda. Belanda
dibangun dari tanah yang digenangi air menjadi daratan yang dapat dihuni
manusia, proses pembangunan tersebut berjalan dalam waktu yangtidak singkat dan
berabad-abad lamanya.
Dengan teknologi
dan inovasi yang dilakukan oleh orang-orang Belanda terciptalah suatu negara
dibawah permukaan laut. Hal
tersebut mengingatkan kita pada kata-kata mutiara yang dilontarkan Filsuf
Perancis, Rene Descartes “God created the
world, but the Dutch created Holland” ujarnya.
Belanda
menerapkan sistem reklamasi lahan melalui sistem polder yang kompleks untuk
mempertahankan wilayah Belanda dari ancaman banjir dan air pasang. Polder
merupakan sistem tata air tertutup dengan elemen meliputi tanggul, pompa,
saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan dan instalasi air kotor yang
terpisah. Dengan demikian sistem dapat polder dikembangkan karena menggunakan
paradigma baru, diantaranya berwawasan lingkungan (environment oriented), pendekatan kewilayahan (regional based), dan pemberdayaan masyarakat pengguna.
Keunggulan dari sistem
polder yaitu mampu mengendalikan banjir dan genangan akibat
aliran dari hulu, hujan setempat naiknya muka air laut. Selain dapat
mengendalikan air, sistem polder juga dapat digunakan sebagai obyek wisata atau
rekreasi, lahan pertanian, perikanan, dan lingkungan industri serta
perkantoran.
Kelemahan dari sistem polder yaitu kerja pada polder sangat
bergantung pada pompa. Jika pompa mati, maka kawasan akan tergenang. Sehingga
diperlukan adanya pengawasan pada pompa. Selain itu, biaya operasi dan pemeliharaannya yang relatif mahal.
Penerapan sistem polder ternyata juga dapat memecahkan
masalah banjir perkotaan di Indonesia. Suatu subsistem-subsistem pengelolaan
tata air tersebut sangat demokratis dan mandiri sehingga dapat dikembangkan dan
dioperasikan oleh dan untuk masyarakat dalam hal pengendalian banjir kawasan
permukiman mereka. Unsur terpenting di dalam sistem polder adalah organisasi
pengelola, tata kelola sistem berbasis partisipasi masyarakat yang demokratis
dan mandiri, serta infrastruktur tata air yang dirancang, dioperasikan dan
dipelihara oleh masyarakat. Sedangkan pemerintah hanya bertanggung jawab
terhadap pengintegrasian sistem-sistem polder, pembangunan, pengoperasian dan
pemeliharaan sungai-sungai utama. Hal tersebut merupakan penerapan prinsip pembagian tanggung jawab dan koordinasi
dalam good governance.
Dan semoga suatu saat nanti entah
kapan nyanyian itu akan jadi nyanyian using. Dan bangsa Indonesia bisa sukses
seperti bangsa Belanda. Dan saya percaya kita bisa.
Daftar
Pustaka :
Sugiarti,
A. 2012. Belajar dari Sistem Folder Negera Belanda. http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera.html. Diakses tanggal 24 April 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar